8.9.07

telanjanglah untukku

Apa yang kamu ketahui tentang telanjang? Apakah telanjang itu tak lebih dari sekedar tampilan vulgar yang memancing ”naluri liar” kita..? Kalau jawaban Anda iya, selamat, berarti anda adalah satu dari sekian banyak orang normal yang selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau vulgar. Tak ada salahnya kita sebagai manusia normal, yang memiliki hasrat dan naluri (walaupun terkadang ada sedikit naluri kebinatangan..),


karena tanpanya, hidup kita akan hampa. Tidak ada kehangatan dan gairah yang membantu kita melewati hari-hari kita. Tak ada pesona lebih yang dapat kita rasakan apabila kita mencoba menampik bahwa kita sebagai manusia biasa menolak untuk merasa terpacu (kalau tidak ingin dikatakan terangsang..) dengan hal-hal yang berbau telanjang dan vulgar.

Aku sempat mencoba melakukan survey kecil-kecilan untuk mencari tahu, seberapa jauh pemahaman manusia mengenai kata telanjang. Walaupun hasilnya sepertinya sudah kasat mata (bahkan sebelum saya berpikir untuk melakukan survey..), namun saya mencoba melihat sisi lain dari pandangan teman-teman dekat saya. Aneh juga, saya yang biasanya begitu pendiam, tertutup, introvert, pemalu, dan segala tetek bengek psikologis (saya mengetahuinya dari psikolog saya, dr. Dickson L) tiba-tiba menanyakan hal yang bagi sebagian orang (setidaknya di domisili sekitar saya) sangat tabu untuk dibicarakan. Saya pun menjawab, hanya untuk bahan perenungan.

Latar belakang responder (terlalu pro..) yang bermacam-macam menjadikan beragam tanggapan mengenai ”telanjang”. Tua dan muda, pekerja dan pengangguran, laki-laki dan perempuan, telah saya tanyai. Sangat menarik, walaupun banyak yang boleh dikatakan berpikiran ”dangkal”, namun ternyata masih ada juga pribadi-pribadi yang mempunyai pandangan ”sangat tabu” tentang telanjang untuk dibicarakan. Ketika ditanyakan pendapatnya tentang telanjang, salah seorang responden saya (dan akhirnya orang ini menjadi teman karib saya) mengatakan bahwa baginya seseorang dikatakan telanjang apabila ia hanya mengenakan kaos singlet atau tanpa lengan, bahkan walaupun jika ia mengenakan celana panjang. Ia selalu menganggap rendah pribadi yang berpakaian terlalu ”terbuka” (pandangan yang kejam, namun harus saya akui, saya menyetujuinya).

Bagi saya pribadi, menyenangkan rasanya melihat kenyataan ini. Artinya, tradisi kita sebagai bangsa timur yang menghormati hal-hal tabu masih meninggalkan bekas yang mungkin saja bisa membawa kembali generasi muda kita untuk tidak terlindas arus modernisasi yang seperti pedang bermata dua, meningkatkan kualitas dan kompetensi manusia, namun juga menghancurkan nilai-nilai tradisi bangsa itu sendiri...


No comments: